Eksplorasi Wacana Pendidikan Dalam Perspektif Revolusi Mental

Penulis : Hablul Warid, S.Ag.,M.Pd

Revolusi Mental dan Pendidikan

Persoalan fundamental yang dihadapi bangsa Indonesia mulai dari merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional, intoleransi dan krisis kepribadian menuntut keberanian memilih solusi dengan melakukan terobosan (breakthrough) melalui revolusi mental. Alternatif revolusi mental mengandaikan suatu perubahan paradigma, struktur dan budaya yang menghambat bangsa Indonesia dalam upaya mewujudkan cita keberbangsaannya saat ini dan mendepan. Perubahan paradigma berkaitan dengan transformasi perspektif yang melandasi kesadaran bangsa dalam memberikan layanan, membangun hubungan kerja yang dapat mengurai persoalan-persoalan krisis yang dihadapi dari dalam serta meretas jalan keluar yang produktif. Sedangkan perubahan struktur dan budaya berkaitan dengan transformasi struktural kelembagaan, fungsi, sikap dan prilaku yang kondusif terhadap pencapaian cita berbangsa sebagai tertuang dalam amanah konstitusi berbangsa dan bernegara Indonesia.

Revolusi mental tidak sekedar alternatif yang dipilih Joko Widodo seperti tertuang dalam “Nawa Cita” yang melandasi kebijakan pemeritahannya dalam item ke-8 : “melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional”. Tetapi juga menjadi kebutuhan bangsa untuk dapat bertahan menghadapi krisis dan menjadi strategi dalam menciptakan keseimbangan dinamis dalam arus perubahan yang kompleks. Dalam batasan ini tentu saja revolusi mental harus dilihat sebagai sesuatu yang niscaya dan terbuka. Niscaya dan terbuka mengandung arti imanensi yang membutuhkan partisipasi kolektif segenap elemen bangsa mengurai interpretasi intelektual, emosional, spiritual, kultural tidak saja pada domain gagasan, tetapi pada domain realita dan program-program kerja yang didedikasikan untuk membangun cita-cita bersama bangsa menjadi Indonesia.

Dalam kontek interpretasi untuk aksi konsepsi revolusi mental bukanlah sebuah perburuan di belantara bangsa yang tampa batas, tetapi telah menemukan lokus pada kepribadian bangsa Indonesia yang harus diekstraksi dalam kurikulum pendidikan nasional. Hal ini akan lebih mudah dipahami bila dipadukan dengan item kelima Nawa Cita yang berbunyi : meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia pintar, Indonesia kerja dan Indonesia sejahtera. Item ini dengan jelas membatasi revolusi mental sebagai revolusi karakter bangsa melalui reformasi kurikulum ditempuh melalui peningkatan kualitas pendidikan yang diharapkan menjadi jembatan emas pencapaian tujuan nasional sebagai diamanahkan dalam konstitusi. Dengan demikian pendidikan telah dipilih menjadi alternative fundamental merevolusi mental bangsa dalam mengatasi krisis yang semakin kompleks.

Memilih pendidikan sebagai alternative tentu bukanlah hal yang sederhana dan lepas begitu saja dari kemungkinan perdebatan. Sebab setiap pilihan yang obyektif tidak boleh jauh dari dua pakem kritik ; (1) apa saja yang dipilih dalam menganalis realita harus dipandang dalam kejamakannya dan (2) senantiasa terbuka untuk digugat bahkan dibatalkan, sebagai diungkap Kristeva (1989) identitas-identitas kita dalam hidup tak putus-putusnya dipersoalkan, digugat dan dibatalkan.  Realita persoalan dan krisis yang dihadapi bangsa Indonesia pada satu sisi dan pilihan revolusi mental melalui pendidikan pada sisi yang lain tidaklah dapat berdiri sendiri, no one day is purely one thing, meskipun telah ditahbiskan dalam Nawa Cita sekalipun.

Ini tidaklah berarti apa yang telah ditetapkan mengandung kemungkinan-kemungkinan yang inkonsistensi dengan upaya pemecahan masalah krisis yang sedang ditempuh. Justru harus disadari mengabaikan situasi krisis seperti ini akan meciptakan diversifikasi persoalan dan pada sisi lain kegamangan mengambil sikap dalam bentuk ketidakmampuan memahami serta mengelola perubahan yang ditimbulkan. Akibatnya bangsa Indonesia akan terjebak semakin dalam  pada situasi yang paling menantang dan berpretensi menghancurkan eksistensi serta sendi-sendi kehidupan berbangsa. Sikap membawa konsep ini dalam eksplorasi wacana (perdebatan) dalam perspektif ini adalah ikhtiar membangun keseimbangan dinamis yang kritis-partisipatori antara apa-apa yang sedang dan akan dijalankan pemerintah dengan ekspektasi rakyat yang terus berkembang. Inilah yang menjadi mind set tulisan ini sekaligus menghadirkan tawaran wacana tentang pendidikan yang efektif mendukung program pemerintah melakukan revolusi mental menuju Indonesia yang cerdas, yang kerja dan yang sejahtera.

Realita Pendidikan Kita dan Revolusi Mental

Mengapa harus melalui dan dengan pendidikan merevolusi mental dan melampaui krisis. Ini tentu berkaitan tidak saja kepentingan/agenda politik semata tetapi menjadi keyakinan bangsa memilih jalur pendidikan sebagai instrument sekaligus strategi. Pendidikan dalam kontek ini setidaknya harus dimaknai sebagai stimulasi dan ekstraksi konten keberhidupan dan kebersamaan yang transitif. Bukan semata alih ilmu, derivasi gagasan tetapi juga menjangkau pada konstruksi social yang menjamin warga bangsa memiliki codified and shared competencies. Codified Competencies menunjukkan kemampuan berupa kepemilikan ilmu, ketrampilan dan profesionalitas. Sedangkan shared competencies menunjukkan kemampuan berupa kesediaan, kesadaran dan keharusan berbagi dalam suatu system yang saling berterima. Dengan kemampuan-kemampuan ini diharapkan subyek dapat bertahan menghadapi krisis.

Dalam arus perubahan saat ini terdapat tiga domain yang menjadi sumber perubahan yang saling berhubungan; teknologi, globalisasi dan kompleks krisis. Sumber perubahan ini dapat menjadi argumentasi penjelas tiga permasalahan pokok yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai dikemukakan di atas, sekaligus menunjukkan posisi eksistensial pendidikan dalam arus perubahan serta krisis yang melanda bangsa Indonesia.

Pilihan politik dan keyakinan pada pendidikan di atas harus diletakkan pada obyektivitas rasionalitas dengan mempertimbangkan posisi pendidikan dalam realita (saat ini dan kemungkinan kedepan). Saat ini dalam arus perubahan dan krisis, pendidikan alih-alih dapat berfungsi sebagai mercusuar perubahan menuju kemajuan, pengarah perubahan untuk selalu dapat berada dalam dinamika keseimbangan eksistensial dengan akselerasi global maupun krisis. Pendidikan malah terjebak menjadi part of problem bangsa yang tidak kalah serius. Dalam pandangan yang ideal pendidikan seharusnya berperan sebagai instrument teleologis yang kreatif dan memiliki quasi analisis memahami seluruh konteks kehidupan suprasistem beserta perspektif perubahannya sehingga dapat membawa bangsa/individu pada pencapaian kemajuan dan kemartabatannya bukan pada kompleks krisis eksistensial.

Saat ini pendidikan paling disudutkan sebagai faktor utama kemerosotan moral dan kepribadian bangsa Indonesia, karena ketidakmampuannya menjadi alternative dalam membantu bangsa Indonesia keluar dari persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi. Bahkan dalam perspektif sistem, realita pendidikan kita dipandang sebagai sumber yang paling bertanggungjawab terjadinya multi krisis yang melanda bangsa. Hal ini disebabkan—terutama—karena pendidikan dikelola dengan paradigma yang justru menimbulkan disfunctions cultures. Ini setidaknya ditunjukkan beberapa indikasi : out put pendidikan yang dihasilkan adalah individu yang mengalami alinasi dari diri, masyarakat dan lingkungan; individu menjadi overdependent terhadap kompetisi dan kehilangan keseimbangan dengan keharusan koperatif; terbentuknya individu yang kerap bersikap reaktif menghadapi berbagai peristiwa, tantangan, ancaman dan situasi yang tidak diikuti system bertindak yang konsisten (reacting to events or situations rather than acting first to change or prevent something).

Mempertimbangkan realita pendidikan yang tergambar diatas bila dipersandingkan dengan ide revolusi mental yang digagas Joko Widodo, adakah mungkin memilih pendidikan sebagai piranti fundamental merealisasikannya. Pertanyaan ini mengandung dua problem bila mengajukan jawaban ya atau tidak. Problem realitas pendidikan itu sendiri dan keharusan memilih jalan pendidikan sebagai tergambar dalam Nawa Cita di mana pemerintah mengakui keterbatasan pendidikan di satu sisi tetapi pada sisi yang lain revolusi mental harus ditempuh melalui pendidikan. Hal ini dapat dipahami pendidikan khususnya sejak era reformasi memiliki kepentingan utama mengembalikan kepribadian bangsa pada karakter keindonesiaan yang bhineka mewujudkan Indonesia yang cerdas, yang kerja dan yang sejahtera, di samping untuk  memperkuat restorasi sosial dalam rangka kemandirian bangsa di kancah pergaulan dunia global.

Berdasarkan pertimbangan realita pendidikan dan kepentingan menyukseskan program revolusi mental tersebut dibutuhkan suatu genre system dan praktik pendidikan yang memiliki concernities dengan suprasistem di mana individu bangsa berada sebagai sebuah living system yang didasarkan pada beberapa kreteria fundamental, antara lain : (1) system dan praktik pendidikan dalam kerangka revolusi mental harus didasarkan pada suatu budaya yang bersumber pada nilai-nilai kemanusiaan yang transcendental dalam kontek ini dapat digali dari Pancasila; (2) menggunakan seperangkat kegiatan kependidikan yang aktual, dialogis dengan tingkat-tingkat perkembangan, kebutuhan suprasistem, di mana semua pihak, lembaga, stakeholders, shareholders pendidikan yang berkepentingan dengan menyukseskan program revolusi mental terkoneksi dalam iklim hubungan yang saling terbuka dan berterima, dan (3) sistem dan praktik pendidikan dalam kerangka revolusi mental hendaknya memiliki kapasitas sebagai suatu sistem yang dapat mendesain dan memandang keberadaan, peran dan fungsinya yang tidak terlepas dari proses interdependensi dan interkoneksitas dalam bekerjasama.

Akhirnya wacana pendidikan yang dibutuhkan bangsa Indonesia dalam perspektif revolusi mental adalah pendidikan yang konsisten dengan tingkat-tingkat kebutuhan dan kompleks masalah yang dihadapi, memiliki concernities dengan krisis serta pemecahannya dan selalu dalam keseimbangan yang dinamis sebagai sistem terbuka seperti tergambar dalam tiga kreteria di atas.