Mawas Diri Di Tengah Pandemi

Penulis : BAIQ DWIYAN NUGRAHANI

Kelas : XI MIPA 1

Siswa : SMAN 1 Pringgarata

 

Pandemi yang saat ini kita alami tidak selalu bisa dipersepsikan kepada ranah negatif yang menghantui. Walaupun tidak bisa dipungkiri, bahwa bila sudah mencapai tahap pandemi maka yang terbersit adalah banyak dampak negatif yang meracuni. Dalam hal ini, yang turut terkena imbas besarnya ialah barisan pelajar hampir di seluruh bagian bumi. Gundah gulana tak kian menepi setiap kali ada notifikasi. Entah itu tugas atau ulangan, ditambah lagi kuota sekarat dan kejaran deadline yang membuat raut wajah pelajar menjadi kacung disertai ketegangan yang menjadi-jadi.

Pada dasarnya semua itu bisa menjadi ladang emas yang berarti. Karena setiap ada kutub negatif, pasti ada kutub positif yang membuntuti. Begitupun dengan dampak yang bisa kita rasakan saat ini. Tergantung seperti apa dan bagaimana cara kita bijaksana dalam menyikapi. Semua dampak negatif akan bisa ditepis dengan pikiran positif serta langkah konkrit yang lebih produktif oleh masing-masing pribadi.

Penulis juga merupakan salah satu korban imbas dengan status pelajar SMA yang saat ini hendak merujuk ke kelas XII di SMAN 1 Pringgarata. Sekolah yang juga melaksanakan KBM nya melalui daring, baik lewat aplikasi Google Classroom atau tak lazim juga via WhatsApp. Jelas sekali bagi semua, bahwa ini merupakan suatu hal yang berbeda. Hal pertama yang penulis pikirkan ketika mendengar informasi tersebut adalah ‘hebat, akhirnya bisa rasain gimana rasanya sekolah kota’.

Penulis menyambut ini dengan suka cita. Tapi hari demi hari dilewati, dengan berbagai macam bentuk penugasan yang tidak mengada-ada. Mengarungi segala proses suka duka nestapa. Begadang, jadi deadliner, pikiran bertumpuk-tumpuk, serangan tugas bertubi-tubi dan hati yang kacau kini menjadi hal yang biasa. Titik terang pun akhirnya menyapa di tengah keruwetan semua yang melanda, ada sebuah kejadian yang istimewa. Sangat istimewa, hingga mampu merombak mindset yang sebelum nya meronta-ronta.

“Seperti biasa, angin semeringah turut mengayomi pagi setiap petani di desa. Kebetulan, penulis juga merupakan seorang anak dari petani peternak yang juga menjadi salah satu anggota Komite di sekolahnya. Penulis berjalan dengan langkah gontai menuju sawah tempat ayahnya bekerja. Tiba-tiba saja hati berdesir, dan pikiran mulai bekerja mencerna apa yang sedang dilihatnya.

‘Ternyata sesibuk itukah aku di sekolah?’ pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di kepala. Penulis sendiri adalah salah satu pelajar dengan kegiatan yang cukup padat dan pulang ke rumah setiap sore sudah menyapa. Kala itu, jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan penulis tak mampu menjamah apa yang dia rasa. Karena satu jam lagi merupakan deadline tugas wajib untuk penilaian kelas XI MIPA. Dan saat itu, tugas penulis memang sudah siap, tapi tiba-tiba kuota mendadak lenyap begitu saja. Setiap kali begadang, tak pernah absen ayah hebat selalu mendampingi hingga penulis terlelap menutup mata.

Malam itu juga, dia melihat raut wajah dengan penuh kekhawatiran yang melanda. Sayup-sayup penulis mendengar ‘Pakai jaketnya kak’, itu adalah suara lembut dari ayah hebatnya. Tanpa pikir panjang, penulis langsung memakai jaket dan ikut dengan nya. Ternyata, sosok hebat itu mengejutkan penulis karena di bawa terobos dingin hanya karena paketan kuota. Sepanjang jalan pulang, rasanya tak ingin dan berat sekali jika harus membuat kecewa atau melukai hatinya.

Penulis hanyalah seorang pelajar biasa yang sebetulnya punya titik jenuh serta lelah, dan sangat lelah dengan semua yang sudah menerpa. Bosan dan hampir patah semangat, bahkan tak jarang mengeluarkan air mata. Memang semua tidak seperti ekspektasi sebelumnya. Tapi ternyata, Pandemi inilah yang membuka luas gerbang bahagia. Begitu bahagia karena akhirnya penulis bisa meninggalkan hiruk pikuk kesibukan di sekolah dan hadir membersamai mereka, serta merasakan hangatnya kasih sayang dibalik kerasnya pengorbanan orang tua.

‘AKU LELAH, TAPI ORANG TUA KU LEBIH LELAH’, sebuah untaian kalimat yang sampai sekarang penulis selalu lontarkan dengan tegas untuk membakar semangat ketika banyak serangan tugas yang datang tak terduga. Ternyata selama ini penulis begitu lemah dan lelahnya belum ternilai jika dibandingkan dengan seberapa banyak keringat orang tua yang bercucuran karena kerja kerasnya.

Lalu alasan apa lagi yang harus penulis gunakan untuk tidak memperjuangkan mereka? Merekalah alasan dibalik rasa ingin selalu totalitas dalam mengerjakan apa-apa. Walaupun mereka memang bukanlah tamatan sarjana, tapi perihal kebutuhan pendidikan? Mereka selalu memberikan hal luar biasa dan terbaik untuk anaknya”.

Jadi tidak usah perbanyak kalam untuk mengeluhkan semua pada Tuhan. Karena semua pasti sudah disediakan jalan. Dan jangan lupa bersyukur dengan keadaan. Mari bangkit dan jadikan semua menjadi pelajaran. Serta jangan jadikan pandemi ini sebagai penghalang masa depan. Disamping juga, sukses tidak bisa dicapai jika hanya dengan angan-angan.